Banyak startup yang focus pada short term matriks seperti revenue, valuasi ataupun growth. Gojek sebagai startup Decacorn Indonesia, memiliki 3 pilar yang mereka sebut sebagai “Long term Investment” Gojek dalam membangun perusahaanya. Tiga pilar ini, tidak focus pada matriks angka-angka, namun lebih menekankan pada value company, work culture. Bagi startup lainnya, terkadang value jangka panjang ini dirasa bukan kebutuhan yang “mendesak” sehingga mereka focus untuk mencapai matriks jangan pendek. Namun, semakin perusahaan berkembang dan tumbuh, investasi jangka panjang untuk membentuk culture company, jelaslah dibutuhkan.
Jadi, apa 3 pilar yang menjadi prinsip organisasi di Gojek
1. Bottom up Innovation
Pada awal berdiri Gojek, pendekatan inovasi yang dilakukan adalah “Top Down” dimana dengan pendekatan top down ini, tim dapat bergerak lebih cepat. Perintah langsung muncul dari leader sehingga jelas apa yang mau dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Prioritas juga menjadi jelas karena pemimpin yang menentukan prioritasnya.
Namun mengapa Gojek shifting menjadi Bottom up innovation?
Gojek tumbuh menjadi perusahaan besar dengan sangat cepat, jumlah tim menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya. Pendekatan top down menjadi tidak menguntungkan dengan jumlah tim ribuan karyawan. Top up innovatioan memberikan efek ‘less engage’ untuk karyawan karena tim hanya mengikuti perintah atasan saja. Selain itu, top up innovation “mentrigr” tim untuk “bermain” aman karena tugas dinilai dengan seberapa cepat dan jago tim dalam mengkesekusi perintah. Efek lainnya adalah membuat tim menjadi kurang motivasi dan juga kurangnya ownership kepada perusahaan.
Sedangkan bottom up innovation memberikan kesempatan kepada orang yang berpotensi menjadi leader untuk lebih berkontribusi. Menrangsang self-drive tim juga untuk mengerjakan berbagai tugas. Sehingga jika dilihat dari sisi ‘investasi jangka panjang’ pendekatan top up innovation akan menghasilkan tim yang dapat memimpin, mengarahkan, proaktif dalam menemukan solusi, dan juga mengeksekusinya dengan baik.
Namun salah satu issue yang mungkin muncul dalam bottom up innovation adalah bagaimana jika member tim, memiliki ide lebih cemerlang dari tim leader?”. Untuk bottom up ini, tim leader bukan lah orang yang bertugas untuk menjadi orang yang dapat memecahkan apapun, namun leader harus menyadari mengenai “collective creativity”. Tim leader harus dapat menjadi fasilitator dalam pasar ide. Prinsipnya adalah share the problem, ask the solution dan biarkan menjadi arena pasar ide. Leader yang baik adalah bukan dia yang bersinar tetapi dia yang memfasilitasi tim nya untuk bersinar.
2. Build bridge and break walls
Dalam poin ke dua, intinya adalah mengenai alignment dan juga komunikasi. Mungkin kita tidak asing dengan istilah “collaboration”. Secara intuitif, banyak startup founder untuk mendorong kolaborasi satu sama lain. Namun bagi gojek, kata kolaborasi bukanlah “hanya” sebuah kata. Namun, secara structural dan peraturan gojek membuat “dorongan” agar kolaborasi itu dapat dilakukan antar departemen satu sama lain. Contohnya adalah dengan adanya goals setting bersama atau dengan kebijakan keuangan tertentu yang pada akhirnya mendorong kolaborasi itu terjadi.
3. Be the best at what matters
Pada poin ke tiga gojek menjelaskan mengenai focus dan prioritas. Ada pribahasa yang mengatakan “if you’re good at everything, you’re good at nothing”. Karena pada realitasnya terkadang kita harus mengorbankan sesuatu untuk menjadi “bagus” pada satu hal. Definisi focus dan prioritas pun harus diterjemahkan dengan jelas. Apakah itu priotitas diri sendiri? Prioritas tim? Atau prioritas perusahaan?