Pernah nggak sih kamu punya target tabungan yang tinggi banget, tapi tiba-tiba uang jajan malah dipotong? Nah, kira-kira begitulah gambaran perasaan para pengamat melihat target ekonomi digital Indonesia di tahun 2026 ini.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) punya mimpi besar: menyumbang Rp155,6 triliun ke kantong negara lewat sektor digital. Angka yang fantastis, kan? Tapi, ada satu kerikil tajam yang bikin para ahli dari Celios (Center of Economic and Law Studies) angkat bicara.
Kenapa Para Ahli Ragu?
Masalah utamanya ada di "bensin"-nya, alias investasi. Ternyata, sejak tahun 2025 lalu, para pemodal (Venture Capital) lagi hobi "diet" alias ngerem kucuran dana ke startup. Fenomena ini sering disebut startup winter yang berkepanjangan.
Tanpa suntikan dana yang segar, startup-startup baru sulit buat ekspansi besar-besaran. Padahal, untuk mencapai target Rp155 triliun itu, kita butuh ekosistem yang lagi "gaspol", bukan yang lagi sibuk efisiensi atau bahkan layoff.
Trus, Harus Gimana?
Para ekonom menyarankan agar pemerintah nggak cuma fokus sama angka di atas kertas. Fokusnya harus mulai geser ke:
1. Pemberdayaan UMKM Digital : Biar nggak cuma startup gede yang main, tapi pelaku usaha kecil juga melek teknologi.
2. Kemandirian Dana : Jangan cuma berharap sama investor asing, tapi mulai memperkuat ekosistem pendanaan lokal.
Jadi, apakah target 2026 ini bakal tercapai atau cuma jadi "angan-angan" di laporan tahunan? Kita lihat saja gimana manuver pemerintah dan para pelaku startup tahun ini!
Source : mureks.co.id
Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan bantuan AI