Startup Asia Tenggara Lagi “Puasa” Pendanaan, Tapi Masih Ada Harapan

Startup Asia Tenggara Lagi “Puasa” Pendanaan, Tapi Masih Ada Harapan


Paruh pertama tahun 2025 bukanlah masa yang manis bagi startup di Asia Tenggara. Pendanaan ekuitas turun tajam hingga menyentuh titik terendah dalam enam tahun terakhir. Menurut laporan dari DealStreetAsia dan Kickstart Ventures, total investasi hanya mencapai US$1,85 miliar dari 229 transaksi—turun 20,7% dibanding tahun sebelumnya.


Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru pesimis. Meski kuartal pertama lesu, kuartal kedua justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dana yang mengalir naik lebih dari dua kali lipat, dari US$580 juta ke US$1,28 miliar. Artinya, investor mulai kembali percaya, asalkan startup punya fondasi bisnis yang kuat.


Siapa yang naik, siapa yang turun?


Singapura masih jadi “jagoan” pendanaan dengan US$1,21 miliar, tapi jumlah transaksinya turun cukup signifikan. Indonesia mengalami penurunan paling tajam—hanya meraih US$78,5 juta, bahkan kalah dari Filipina yang mencetak US$86,4 juta. Sementara itu, Vietnam dan Malaysia justru bersinar. Vietnam berhasil menggandakan jumlah transaksi dan nilai pendanaan, sedangkan Malaysia mencatat lonjakan dua kali lipat berkat pendanaan jumbo.


Unicorn baru tetap lahir


Meski iklim pendanaan sedang ketat, Asia Tenggara tetap melahirkan tiga unicorn baru: Ashita Group dari Malaysia, Thunes dari Singapura, dan Sygnum, bank aset digital. Total unicorn di kawasan ini kini mencapai 58—lumayan, kan?


Tahap awal makin susah, tahap lanjut makin tajam


Startup yang masih di tahap awal (hingga Seri B) harus kerja ekstra keras. Jumlah transaksi di tahap ini turun ke angka terendah dalam enam tahun, dengan nilai hanya US$1,1 miliar. Sebaliknya, tahap lanjut justru makin menggigit. Meski hanya 10 transaksi, nilainya tembus US$756 juta, naik 70% dari sebelumnya. Median ukuran transaksi pun naik ke US$60 juta—menandakan investor lebih suka “main aman” dengan perusahaan yang sudah terbukti.


Sektor mana yang masih dilirik?


- Fintech tetap jadi primadona, meski performanya juga melemah.

- Healthtech bangkit berkat pendanaan besar untuk Nuevocor.

- Greentech dan startup iklim mulai dilirik, terutama yang bergerak di energi terbarukan dan mobilitas rendah karbon.


Jadi, apa artinya semua ini?


Menurut Minette Navarrete dari Kickstart Ventures, kondisi ini memaksa pendiri startup untuk lebih disiplin. Investor kini menuntut efisiensi modal, model bisnis yang masuk akal, dan tim yang solid. Di sisi lain, perusahaan yang sudah matang dan punya skala jelas justru mendapat kepercayaan lebih besar.


Singkatnya, meski cuaca pendanaan sedang mendung, bukan berarti badai tak bisa reda. Startup yang tahan banting dan punya nilai nyata masih punya peluang besar untuk bersinar.



Source : news.dailysocial.id

Disclosure: Artikel ini diproduksi dengan bantuan AI 

  • Share: