Hello kaum Zaman Now, kita kali ini akan bahas peluang dan strategi Bisnis di era mileinial. Mengapa Berbisnis? Mulai dari mana? Bagaimana bisa survive? Mungkin beberapa pertanyaan itu mewakili kegundahan kita, Banyak dari kita bingung memulai dari mana. “Indonesia ini kaya... bla bla bla” sudah lagu lama, makanya kita kasih lihat kalau kalian memiliki peluang, dan cara memanfaatkan peluang itu.
Melihat overview peluang Indonesia di regional Asia dan Oceania diatas, poin yang mencolok disini adalah Internal Market Indonesia dan edukasi entrepreneurship di Indonesia menjadi poin positif dalam Rating Enterepreneurial Eco-System.
Berbicara internal market jelas hal ini diperkuat dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 255.5 juta penduduk, sebuah market yang sangat potensial. Banyak dari startup dan perusahaan luar datang ke sini untuk ekspansi seperti Lazada dan Shopee. Selain menjadi pasar, indonesia pun menjadi market para investor untuk invest perusahaan khususnya startup di indonesia. Berikut ini bidang yang “disukai” para investor
Kita bisa liat dari grafik tersebut, kecenderungan Investor suka dengan Start-Up Fintech seperti DOKU, Go-Pay, dan Jojonomic, dan untuk Start-Up E-Commerce seperti Tokopedia, Bukalapak dan Lazada.
Setelah melihat hebatnya start-up anak bangsa dan melihat peluang yang ada. pertanyaan selanjutnya, untuk buat startup itu bagaimana?, nih kita kasih tau perbedaan Prinsip Bisnis Zaman Old dan Zaman Now
Right Time = Waktu yang Tepat, maksudnya disini adalah tepat dalam memulai bisnis startup, dan tepat dalam launcing bisnis kita
Right Place = Tempat yang tepat, maksudnya adalah tepat memposisikan bisnis startup kita dan tepat menempatkan target pasar kita
Right Product = Produk yang tepat, maksudnya tepat sesuai dengan ide awal dan tepat sesuai keinginan pasar
Right Technology = maksudnya adalah penggunaan teknologi yang tepat dalam operasional startup kita
Right Business Model = maksudnya adalam menggunakan model bisnis kita yang tepat.
Pada dasarnya ya sama memang tapi dalam dunia startup ada tambahan 2 poin, Penggunaan teknologi yang tepat dan Bisnis Model yang tepat.
Setelah kita mengtahui prinsipnya, selanjutnya cara berfikirnya, terkadang dalam bisnis konvensional mengedepankan intuisi dalam mengambil keputusa, tidak salah memang, tapi hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan yang terukur. Adapun bisnis konvensional memakai perhitungan yang dapat terukur, tapi belum tentu hasil akhirnya di sukai pasar. Jadi pola berfikir atau desain berfikir Startup memadukan hal yang Mesureble dan Intuisi.
Design thinking, mendesain pemikiran kita, dari grafik disamping, untuk mengambil keputusan yang tepat ini adalah perpaduan antara intuisi dan analisa. Karena analisa menggambarkan kendala yang akan datang, dan intuisi menggambarkan validasi dalam pengambilan keputusan
Setelah dapat design thinking pada startup kita, berikut ini 3 langkah memunculkan ide krearif pada startup kita
Identifikasi masalah, kita identifikasikan permasalahan yang ada dalam startup kita baik itu dari produk kita ataupun dari managerial kita
Jangan berfikir linear atau lurus atau lempeng, coba kita berfikir Out of the box dalam permasalahan kita.
Gunakan Otak orang lain, maksudnya ialah memperbanyak sharing dengan tim maupun dengan para expertis dan bahkan dengan sesama komunitas startup.
Step pertama mengetahui Peluang, lalu Step memahami Prinsip, dan cara berfikir, lalu cara berfikir kreatif, sekarang kita bahas proses kreatifitas
Tanpa disadari proses kreatifitas pada umumnya seperti grafik disamping, ada empat fase, fase Planning, Fase Proses, Fase lanjutan Proses, dan fase Hasil. Titik nadir dalam memulai bisnis biasanya terjadi dalam transisi dari fase proses dan fase proses lanjutan, hal yang perlu di ambil adalah mencari ide ide kreatif lagi dengan sharing di expertis dan komunitas, truly you’re not alone. Dibutuhkan dedikasi yang kuat untuk masuk pada fase hasil. Dan kita akan mendapatkan hasil yang sesuai target dan bahkan bisa lebih dari target yang kita tetapkan.
Selamat mencoba!